Rusuh itulah riuh narasi kehidupan yang terjadi
beberapa hari belakang ini, di negeri dikenal dengan ideologi Pancasilanya. Elemen-
elemen intelektual muda (katanya) turun memenuhi panggung demontrasi dengan teriakan-teriakan
kekecewaan, mungkin juga sinis maupun bernada ancaman. Dalam dunia demokratis
itu telah menjadi biasa, sedikitnya pernyataan ini banyak diamini kebanyakan orang.
Gerakan aksi massa elemen intelektual muda,
walaupun tidak sedikit yang tua-tua ikut nimbrung teriak karena mungkin gagal
move on dalam kontestasi politik, menjadi gelombang riuh sebagai sombol dalam ruang-ruang
kritis, yang dianggap pelanjut estafet para
pendahulu yang berhasil menumbang rezim otoritatarian yang berpernah berlaku di
bangsa ini.
Tentu tindakan aksi massa bukan sebuah hal yang
tabu untuk dilakukan, yang memang seharusnya elemen intelektual muda tidak boleh
tinggal diam, tetapi tetap kritis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
dengan maksud agar tetap berada poros cita-cita dan tujuan berdirinya Negara republik
Indonesia. Tetapi bagaimana kiranya ketika sikap kritis yang terpatri dalam
diri intelektual muda bangsa ini, berbanding lurus dengan krisis intelektual yang
merasukinya.
Pelabelan elemen intelektual muda harus tetap
bersikap kritis, seharusnya bermakna sama bahwa kritis karena tahu. Tapi apa
jadinya kritis tapi bermakna tidak tahu, tentu yang hadir adalah masalah menggerogiti
tatanaan persatuan dan ketertiban umum bangsa ini dengan luapan gerakan massa turun
ke jalan bukan membawa solusi masalah, tetapi lebih condong membawa amarah
angkara murka. Mungkin amarah untuk melawan kedzaliman adalah penting, tapi sebaliknya
amarah yang tidak punya landasan kemarahan dan cenderung di awali oleh
ketidaktahuan inilah yang menjadi masalah. Narasi yang tergaungkan dari serpihan-serpihan
perjuangan intelektual muda yang nampak di negeri ini, tidak lain hanya sebuah
kebisingan serta kegersangan intelektual melekat di pojok otak mereka, sehingga
menghasilkan gerakan-gerakan buta dan nihil memahami masalah, sehingga nampak
bahwa mereka hanyalah mahluk-mahluk dengan elemen ngotot berjuang
mengatasnamakan rakyat, tapi tersandera label kebenaran gersang akan nilai. Apakah ini berbahaya ?
Tidak hanya berbahaya, tapi juga menakutkan bagaikan
monster penghisap darah kebenaran. Dapat dilihat ketika kemudian ada seseorang
atau kelompok lain melakukan kritikan terhadap perangai tersebut, maka cap dan
tuduhan partisan, tak punya hati dan bersekongkol dengan pemerintah maupun
politisi akan bersetubuh dengan kebenaran sepihaknya. Padahal kita tahu, logika
sehat mengatakan bahwa pembelaan seseorang bukan saja karena didasari oleh keberpihakannya
pada pemerintah atau politisi tetapi karena subtansi konten yang diperjuangkan
oleh intelektual muda yang dianggap jauh apa yang seharusnya diperjuangkan. Belum lagi sekiranya apa yang diperjuangkan
telah sampai pada titik kesepakatan, tentu gerakan itu harus berhenti dengan tidak
melakukan perbuatan-perbuatan yang dianggap tidak layak dilakukan seperti
merusak fasilitas umum dan lain sebagainya. Tetapi bayangan ideal itu ternyata
harus tergadai dari luapan-luapan bising nan merusak, padahal yang seharusnya telah
final dan kemenangan berada dipihak mereka. Tapi terus bergerak yang tidak lain
hanya dipandang sebagai perebutan lahan citra tentang kisah-kisah kehebatan,
walau dengan gaya dan narasi paroligisme yang
menggelikan. Pagelaran citra yang mungkin bagi saya lebih
tepat untuk menilai semuanya ini, tidak lebih jauh berbeda dengan apa yang
dilakukan oleh kebanyakan politisi, atau bisa saja adalah bagian untuk
semakin memuluskan kepentingan politisi tertentu yang memang tidak menginginkan
bangsa ini jalan sesuai cara-cara kehidupan yang harmonis, walaupun itu tidak
terkoneksi secara langsung. Kita sebenarnya menunggu semangat intelektual
muda yang betul-betul berjuang demi mengurusi tentang hak dasar orang banyak, melalui
pendekatan pengkajian yang mendalam tentang kebutuhan dasar tersebut. Bukan terjebak
serpihan-serpihan aksidental masalah yang hanya fenomena tapi bukan kebutuhan
nomena rakyat. Kita pula sangat berharap intelektual muda tidak terjebak dalam
kubangan pemikiran sempit, bahwa tahu bukan prasyarat penting sebuah gerakan
dan perjuangannya. Jika kemudian seperti itu landasannya, maka dipastikan bahwa
semua ini hanya pagelaran citra yang terjangkiti nalar nable selves. Sebuah penyakit dalam kajian tipe komunikator dalam
kajian llmu komunikasi, yang memiliki pengertian bahwa orang atau individu yang
hanya menganggap dirinya memiliki personal ideal, superior dan sulit menerima
kritik hanya mau mengkritik. Jika mental dan nalar nable selves ketika telah terpatri dalam pikiran elemen muda, maka
akan menganggap bahwa kritik yang dilakukannya adalah kebenaran, dan yang
bertentangan dengan kritikannya dianggap sebagai persengkongkolan pada yang
jahat. Bahayanya mereka juga menganggap bahwa merusak, kegaduhan penting untuk
dilakukan karena itu bagian dari kebenaran itu sendiri. Tentu kita sepakat
bahwa kritik adalah modul yang berisikan masalah-masalah, yang kemudian
berujung pada perbaikan, tetapi apa jadinya ketika modul yang berseliweran
adalah hujatan yang didasari oleh ketidaktahuan masalah. Maka yang ada hanya
tontonan lucu lagi menakutkan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, dan semoga
saja ini bukan karena nyaman dengan hal itu, nyaman demi segompok duit, nyaman demi
citra, nyaman demi publisitas, dan nyaman demi populer.
“ Kalau hanya sekadar
citra dalam bayangan realitasmu, tentu kita tak dapat mengalahkan indahnya beo
dengan buluh dan pandai meniru bunyi”. Andi Muslimin
Selamat datang di Andi Thinkspace Blog ini lahir dari keyakinan bahwa peradaban yang maju tidak hanya dibangun oleh kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan nalar.
Posting Komentar
0 Komentar