
Ada dimana hari-hari ketika dunia itu terasa begitu sangat bising. Politik dipenuhi perebutan kuasa, ekonomi dipenuhi angka-angka yang tak pernah selesai dihitung, dan kehidupan seolah memaksa manusia untuk berlari tanpa sempat bertanya ke mana sebenarnya hidup sedang menuju. Di tengah kebisingan itu, aku pulang dan menemukan dua pasang mata yang memandangku tanpa syarat, Aliste dan Alnaya.
Mereka belum memahami arti jabatan, kekayaan, ataupun kehormatan. Mereka belum mengenal ambisi yang sering membuat manusia saling menjatuhkan. Namun, justru dari kepolosan mereka aku belajar bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar diukur oleh apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan oleh siapa yang tetap memeluk kita ketika semua pencapaian kehilangan makna.
Menjadi ayah adalah sebuah kehidupan dengan dinamika yang kompleks. Di mata anak-anak, seorang ayah tampak seperti pohon yang kokoh, padahal di dalam dirinya sering bersembunyi badai yang tak pernah diceritakan. Ada kecemasan yang dipendam agar mereka tetap tertawa. Ada air mata yang ditelan agar mereka tetap percaya bahwa hidup adalah sarana perjalanan cinta. Ada luka yang disembunyikan agar mereka tidak kehilangan rasa aman.
Aku tidak tahu bagaimana sejarah akan mengingat namaku. Mungkin aku akan dilupakan seperti jutaan manusia lain yang pernah datang dan pergi. Tetapi hari-hari dimana Aliste dan Alnaya memanggilku etta sebagai ayah yang berusaha jujur, bekerja keras, dan tidak menyerah pada keadaan, disitulah nampak kebahagian keabadian yang sesungguhnya.
Filsuf Yunani pernah mengajarkan bahwa manusia mengejar kebijaksanaan. Namun, bagiku kebijaksanaan bukan hanya lahir dari buku-buku tebal atau ruang-ruang akademik. Tetapi juga lahir ketika seorang anak menggenggam jemari ayahnya tanpa rasa takut. Pada saat itulah aku memahami bahwa kepercayaan adalah amanah paling berat yang pernah diberikan Tuhan kepada seorang manusia.
Aliste dan Alnaya adalah dua nama yang diam-diam mengubah cara pandangku terhadap kehidupan. Mereka membuatku mengerti bahwa masa depan bukan sekadar sesuatu yang akan datang, melainkan sesuatu yang setiap hari sedang dibentuk oleh teladan yang mereka lihat. Anak-anak tidak hanya tumbuh dari nasihat yang panjang, melainkan juga dari contoh yang mereka saksikan.
Karena itu, setiap kali aku gagal, aku harus bangkit. Setiap kali aku lelah, aku harus melangkah. Bukan karena aku ingin terlihat kuat, tetapi karena ada dua jiwa kecil yang sedang belajar arti keteguhan dari setiap langkah ayahnya. Mereka mungkin akan lupa hadiah yang pernah kuberikan, tetapi mereka tidak akan lupa bagaimana aku memperlakukan orang lain, bagaimana aku menjaga integritas, dan bagaimana aku bertahan ketika kehidupan sedang tidak berpihak.
Barangkali suatu hari nanti mereka akan membaca tulisan ini ketika rambutku mulai memutih, langkahku mulai melambat, atau mungkin ketika aku telah menjadi kenangan. Jika hari itu benar-benar tiba, aku ingin mereka mengetahui satu hal.
Ayah tidak pernah bermimpi memiliki anak yang sempurna. Ayah hanya berdoa agar kalian menjadi manusia yang hatinya tidak pernah kehilangan belas kasih, pikirannya tidak pernah berhenti mencari kebenaran, dan langkahnya tidak pernah takut membela yang benar meski harus berjalan sendirian.
Sebab dunia selalu membutuhkan orang-orang cerdas. Namun, lebih dari itu, dunia sedang merindukan manusia-manusia yang berhati nurani.
Untuk Aliste dan Alnaya, kalian adalah doa yang berjalan, harapan yang bernapas, dan alasan mengapa setiap pagi masih layak diperjuangkan. Semoga nilai-nilai manusia teladan yang ditanamkan dalam buku kisah-kisah tetap menggenggam hati kalian.
Karena pada akhirnya, seorang ayah tidak hidup untuk dikenang oleh dunia. Namun hidup agar anak-anaknya memiliki alasan untuk percaya bahwa cinta adalah kekuatan dan harapan yang terukir singgasana langit bersama penuntun jalan pada setiap zamannya.

0 comments:
Posting Komentar