Napak Tilas Kemerdekaan

Hasil gambar untuk "Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan".~Pramoedya Ananta Toer~

Ketika mengenang masa perjuangan kemerdekaan, kita menemukan sebuah kenyataan yang patut direnungkan. Para pendahulu bangsa berjuang dengan semangat yang menyala, nalar yang jernih, dan hati yang membumi. Mereka tidak terjebak dalam sekat-sekat identitas seperti saya Muslim, saya Nasrani, saya Hindu, saya Buddha, ataupun dikotomi mayoritas dan minoritas. Di atas segala perbedaan itu, mereka berdiri dalam satu barisan, memikul beban yang sama, dan mengorbankan jiwa serta raga demi satu tujuan: kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan bangsa ini lahir dari keberagaman yang bersatu. Ia ditebus dengan tetesan keringat, air mata, dan darah seluruh anak bangsa tanpa memandang agama, suku, maupun latar belakangnya. Keberagaman bukanlah penghalang bagi lahirnya Indonesia, melainkan fondasi yang menguatkan perjuangan menuju kemerdekaan.

Setelah kemerdekaan diraih, para pendiri bangsa tidak menjadikan identitas agama ataupun jumlah sebagai dasar untuk mengklaim siapa pemilik sah republik ini. Tidak ada ruang bagi ego yang berkata, ini milik mayoritas atau ini milik kelompok tertentu. Sebaliknya, mereka meletakkan "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" sebagai salah satu fondasi kehidupan berbangsa. Dengan demikian, Indonesia tidak dibangun di atas kemenangan satu golongan, melainkan di atas penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

Namun, zaman telah berubah. Semangat kemerdekaan perlahan tergerus oleh menguatnya ego-ego partikularistik yang memecah belah persaudaraan kebangsaan. Identitas yang dahulu menjadi kekuatan pemersatu kini kerap dijadikan alat untuk saling menegasikan. Kemanusiaan menjadi murah ketika dikalahkan oleh rasa dengki, prasangka, fanatisme, dan keinginan untuk menguasai. Masing-masing merasa paling benar, paling berjasa, bahkan menganggap dirinya sebagai pemilik paling sah atas negeri ini.

Dalam konteks itulah, pesan Soekarno terasa semakin relevan: "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Kalimat tersebut bukan sekadar peringatan tentang konflik antarsesama, melainkan pengingat bahwa ancaman terbesar bagi sebuah bangsa sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari ego, keserakahan, dan hilangnya rasa kemanusiaan di dalam dirinya sendiri. Bangsa dapat kehilangan arah ketika ada mereka yang mengaku sebagai pejuang, tetapi justru mengikis nilai-nilai kemanusiaan; mengaku mencintai Indonesia, tetapi menolak keberagaman yang menjadi alasan Indonesia dapat berdiri.

Karena itu, perjuangan hari ini bukan lagi merebut kemerdekaan dari penjajahan fisik, melainkan menjaga kemerdekaan dari penjajahan cara berpikir yang sempit. Keadilan harus dimulai dari pikiran, sebab pikiran yang adil akan melahirkan sikap yang adil, dan sikap yang adil akan melahirkan tindakan yang memanusiakan.

Indonesia adalah bangsa yang lahir dari keberagaman dan dipersatukan oleh cita-cita kemanusiaan. Selama kita mampu menjaga keduanya, kemerdekaan akan tetap memiliki makna. Namun, ketika keberagaman dipandang sebagai ancaman dan kemanusiaan dikalahkan oleh ego, sesungguhnya kita sedang menjauh dari semangat yang diwariskan para pendiri bangsa.

17 Agustus 1945 bukan sekadar hari lahir sebuah negara, melainkan hari lahir komitmen untuk menjaga keberagaman dalam bingkai kemanusiaan yang adil dan beradab.

— Andi Muslimin

Posting Komentar

0 Komentar