Menggugat Kegersangan Paradigma Barat dan Krisis Paradigma Materialistik
Dunia hari ini tidak sedang mengalami krisis ekonomi semata. Ada persoalan yang lebih dalam, yakni krisis ontologis. Jurang antara harapan dan realitas semakin lebar. Dalam hal ini kita perlu membedah terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan harapan. Terdapat distingsi penting antara harapan nafsu dan harapan akli. Harapan nafsu bersifat subjektif, relatif, dan personal. Keinginan mengonsumsi makanan tertentu, misalnya, ketika tidak terpenuhi hanya melahirkan kekecewaan sesaat.
Masalah peradaban memiliki sifat berbeda. Masalah peradaban berakar pada harapan akli, yakni tuntutan objektif terhadap keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran universal. Kegagalan dunia modern terletak pada ketidakmampuan memenuhi harapan akli karena manusia terjebak dalam epistemological tyranny materialisme.
Ideologi yang hanya mengejar pemuasan hasrat material tanpa landasan metafisika yang kokoh akan membawa manusia pada kegersangan jiwa dan konflik yang tidak berkesudahan. Ketika materi ditempatkan sebagai ukuran utama kehidupan, pertanyaan tentang makna, keadilan, dan tujuan keberadaan manusia kehilangan tempat. Politik pun kehilangan sakralitasnya, sementara manusia kehilangan arah eksistensialnya.
Kegersangan politik Barat berakar pada kemiskinan metafisis yang dipaksakan oleh empirisme ekstrem Bertrand Russell dan positivisme Auguste Comte. Paradigma tersebut membatasi manusia pada realitas yang dapat dijangkau pengalaman indrawi. Realitas di luar wilayah indrawi semakin disingkirkan dari ruang berpikir. Dunia kemudian dipaksa memilih antara dua kutub yang dalam pandangan penulis merupakan bagian dari agenda setting zionis, sebuah rancangan intelektual yang menempatkan tokoh seperti Adam Smith dengan kapitalismenya dan Karl Marx dengan sosialismenya sebagai bidak catur untuk memecah belah bangsa-bangsa dan menjauhkan Tuhan dari pusat peradaban.
Kapitalisme dan komunisme atau sosialisme memiliki bentuk berbeda, tetapi keduanya memperlihatkan keterbatasan ketika manusia ditempatkan dalam kerangka material semata. Kapitalisme yang berorientasi individualisme cenderung menempatkan individu sebagai realitas utama, seperti batu bata yang membentuk sebuah tembok, sementara masyarakat dipandang sebagai bayangan. Fokusnya berada pada egoisme individu dan keuntungan pribadi. Hak komunal mudah terabaikan dan kehidupan bergerak menuju akumulasi materi tanpa batas.
Komunisme atau sosialisme bergerak dengan arah berlawanan. Individu dipandang seperti botol kosong, sedangkan masyarakat menjadi tinta yang memberi warna dan isi. Fokusnya berada pada kolektivisme utopis dan cita-cita masyarakat tanpa kelas. Dalam kerangka tersebut, jiwa dan identitas individu dapat tersingkir oleh struktur kolektif. Gerak dialektika materi akhirnya kehilangan kehidupan metafisis. Perbedaan itu menunjukkan pertarungan dua cara pandang tentang individu dan masyarakat. Kapitalisme mengutamakan individu, sedangkan sosialisme mengutamakan kolektivitas. Namun, ketika keduanya tetap bergerak dalam kerangka materialisme, manusia berhadapan dengan persoalan yang serupa, yaitu keterputusan antara kehidupan material dan dimensi metafisis.
Pemaksaan ideologi materialis telah melahirkan tragedi kemanusiaan. Manusia direduksi menjadi mesin atau robot dalam sistem produksi. Dalam perspektif Max Weber, etika Protestan, khususnya Calvinisme, yang melahirkan kapitalisme menciptakan beban spiritual yang mengerikan. Keberhasilan materi ditempatkan seperti sebuah Rukun Iman. Ketika seseorang gagal atau bangkrut, kegagalan dapat dipahami sebagai tanda bahwa Tuhan telah mendiamkan orang tersebut. Kondisi semacam itumenempatkan pegangan hidup ikut kehilangan pijakan. Di sini terlihat bagaimana ukuran material dapat masuk begitu jauh ke dalam kehidupan manusia hingga menentukan cara seseorang memahami keberhasilan, kegagalan, bahkan hubungan dengan Tuhan.
Persoalan materialisme juga terlihat dalam sejarah geopolitik. Sebuah negara sulit bertahan ketika terdapat dua jiwa atau dua ideologi yang saling berlawanan. Korea terbelah menjadi Korea Utara yang sosialis dan Korea Selatan yang kapitalis. Jerman dan Vietnam menjadi medan perang ideologi yang mengorbankan jutaan nyawa dalam perebutan kekuasaan atau Power. Cina mengalami keterpisahan antara daratan yang sosialis dan kepulauan yang kapitalis akibat ketidakmampuan menyatukan paradigma berpikir.
Eksploitasi nilai lebih atau surplus value dalam sistem tersebut memperlihatkan persoalan yang sama. Materialisme, baik kanan maupun kiri, tetap berpotensi melahirkan sistem yang menindas karena tidak mengenal hak kepemilikan mutlak Tuhan. Dalam mempertahankan sebuah ideologi, terdapat tiga strategi. Strategi pertama adalah kekuasaan atau power. Pendekatan ini menggunakan kekuatan fisik dan paksaan, seperti rezim Tsar atau otoritarianisme. Cara tersebut tidak mampu mengubah keyakinan manusia. Keyakinan dalam pikiran tidak dapat dibunuh dengan peluru. Ketika ditekan, keyakinan justru dapat menjadi api dalam sekam.
Strategi kedua adalah persuasi atau opini. Strategi ini bekerja melalui iklan, tren, dan jargon. Persuasi dapat mengubah persepsi, tetapi belum tentu menyentuh keyakinan dasar atau Pandangan Dunia masyarakat. Strategi semacam ini mudah berhenti pada perubahan tampilan tanpa menyentuh akar cara berpikir.
Strategi ketiga adalah redukatif edukatif. Pendidikan formal dan non-formal menjadi jalan untuk mengubah paradigma berpikir. Akal manusia diajak melihat kesalahan ideologi yang dihadapinya sekaligus menguji dan membuktikan kebenaran ideologinya sendiri. Perubahan yang lahir dari kesadaran akal berbeda dari perubahan yang lahir karena tekanan. Manusia tidak dipaksa untuk percaya, tetapi diajak memahami. Karena itu, kegagalan ideologi materialistis perlu dibaca sebagai persoalan paradigma. Persoalannya bukan sekadar memilih kapitalisme atau sosialisme. Kedua pilihan tersebut tetap bergerak dalam pertarungan paradigma material. Diperlukan epistemologi yang mampu menempatkan realitas material dan metafisis dalam satu hubungan yang utuh.
Ketuhanan perlu dipahami sebagai basis metafisis yang dapat didekati melalui akal, bukan berhenti sebagai doktrin ritual. Dalam kerangka berpikir tersebut, keadilan merupakan realitas metafisis yang berada di "Alam Akal". Hukum berfungsi sebagai tawasul, jembatan untuk menurunkan keadilan tersebut ke alam materi.
Persoalan kepemilikan juga perlu ditempatkan dalam kerangka yang sama. Manusia tidak dapat memandang dirinya sebagai pemilik mutlak atas segala sesuatu. Manusia hanyalah pemegang amanah atas milik Tuhan. Kesadaran tersebut menjadi dasar untuk membatasi sifat rakus dan monopoli. Hubungan antara manusia, kekayaan, kekuasaan, dan keadilan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh ukuran material.
Krisis itu memperlihatkan kelemahan ketika politik dipisahkan dari pertanyaan tentang hakikat manusia. Politik mudah berubah menjadi perebutan sumber daya, pengaruh, dan posisi. Ukuran keberhasilan pun bergeser dari kemampuan membangun kehidupan yang adil menuju kemampuan menguasai dan mempertahankan kepentingan. Ketika keadaan berlangsung terus, konflik tidak lagi dipandang sebagai gejala yang harus dicari akar pemikirannya, tetapi sebagai persaingan kepentingan yang harus dimenangkan.
Di sinilah persoalan paradigma menjadi penting. Cara manusia membaca realitas menentukan cara manusia menyusun hukum, ekonomi, politik, dan hubungan sosial manusia modern. Jika dasar berpikirnya hanya material, hukum mudah kehilangan hubungan dengan keadilan yang lebih tinggi. Kekuasaan mudah dipisahkan dari tanggung jawab moral. Kekayaan pun mudah diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri secara sadar.
Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada penyampaian doktrin. Pendidikan harus membuka ruang bagi akal untuk menguji dasar keyakinan, mengenali batas suatu ideologi, dan menemukan hubungan antara realitas material dengan realitas metafisis. Perubahan semacam itu membutuhkan keberanian intelektual, sebab paradigma yang mengakar tidak akan berubah hanya dengan pergantian istilah atau slogan. Masa depan Indonesia dan dunia membutuhkan keberanian untuk membedah apa yang disebut sebagai Zionisme Ideologis, yang dalam pandangan penulis telah membungkus dunia dalam konflik buatan antara kapitalisme dan sosialisme. Kedua ideologi tersebut dipandang sebagai alat untuk menjauhkan manusia dari hakikat dirinya dan memisahkan kehidupan material dari Tuhan.
Gerakan yang menggiring manusia menjadi sekadar binatang ekonomi juga perlu diwaspadai, sebagaimana tersirat dalam simposium tentang Dajjal sebagai "Messiah" bagi kaum Zionis. Ketika manusia hanya diukur melalui kepemilikan, produksi, konsumsi, dan kekuasaan, dimensi kemanusiaan semakin menyempit. Peradaban yang agung juga membutuhkan fondasi akal yang sehat dan pengakuan terhadap sakralitas nilai-nilai Ketuhanan. Perubahan paradigma tidak cukup dibangun melalui kekuasaan atau permainan opini. Perubahan harus menyentuh cara manusia memahami realitas, manusia, kepemilikan, keadilan, hukum, dan Tuhan.
Masalah terbesar dunia bukan semata-mata kekurangan sistem politik atau ekonomi. Masalahnya terletak pada cara manusia memahami realitas. Selama kehidupan hanya dibaca melalui ukuran material, konflik antara kepentingan individu dan kepentingan kolektif akan terus berulang, yang diperlukan adalah keberanian untuk keluar dari pertarungan dua kutub materialisme dan kembali menempatkan akal serta metafisika sebagai dasar dalam membaca manusia dan peradaban.



Posting Komentar
0 Komentar